7/12/2010

Harian Enteng 145 cc

4731skywave-bore-up-yudi-1.jpgBagi mereka yang aktif dan hidupnya bisa dikatakan di atas roda, motor yang enteng alias enak diajak akselerasi pastilah sangat diperlukan. "Saya suka model desain Skywave tapi ternyata berat banget diajak ngebut. Perlu rombakan biar lebih ngacir," kata Happy Yulardo, pemilik skubek ini.

Bodi bongsor Skywave pertama diakali dengan proses bore up. "Banyak tawaran tapi karena ini buat pemakaian harian, maka pilih main aman aja," kata Ardo, sapaannya sehari-hari.
4732skywave-bore-up-yudi-2.jpg
Untuk pengguna skubek Suzuki, piston Thunder 125 menjadi pilihan yang paling pas. Sebab untuk pemasangannya relatif gampang. Karena tidak dilakukan ubahan pada lubang pin piston alias masih standar. Yaitu sama-sama 14 mm antara Thunder 125 dan Skywave.

Penggunaan piston Thunder 125 oversize 100 punya diameter 58 mm. Stroke standar Skywave 55,2 mm. Maka kapasitas silinder yang digapai yaitu 145,8 cc.

Tenaga bawah motor langsung terasa beda. "Selain itu dengan ukuran seperti ini masih sangat aman buat pemakaian harian, gak rewel," kata pria yang bekerja menjadi tim promosi band indie yang baru bermunculan.

Tenaga besar yang dirasakan sekarang juga diakibatkan pemakaian klep yang lebih besar dibandingkan bawaannya. "Pakai TK 26 : 23, jadi tenaganya pas. Buat ngebut di jalanan juga oke, tapi kalau buat balap liar ya.. belum," katanya merendah.

4733skywave-bore-up-yudi-3.jpgTentu saja di sistem kerja skubek, tidak cukup dengan hanya upgrade dapur pacu. Dalaman CVT juga perlu dilakukan penggantian biar motor jadi lebih ngacir.

Nah, pada Skywave ini sudut derajat pullynya sedikit dibubut. "Tujuannya supaya reaksinya lebih cepat dan spontan sehingga akselerasi jadi lebih cepat juga," kata pria berambut mohawk ini. Perubahan ini membuat sudut sekarang menjadi 13,5 derajat, aslinya 14 derajat.

Selain itu untuk per CVT-nya juga dilakukan penggantian. "Dipilih yang lebih keras biar reaksinya cepat," tambah warga kota Legenda Wisata, Cibubur, Jakarta Timur ini. Tapi, bukannya memilih produk variasi yang banyak di pasaran, dia malah menggunakan bawaan standar kepunyaan Honda Vario.

Hal lain yang didapat hasil percobaan Ardo adalah dalam masalah urusan pemilihan roller-nya. "Ilmu roller enteng buat akselerasi dan berat untuk top-speed itu hanya jika kondisi mesin standar. Kalau sudah bore up begini maka lain lagi ceritanya," tambah pria yang tergabung di Skywave Owner Club (SOC) ini.

Mengenai roller ini setelah diuji langfsung memang lebih baik kembali ke ukuran aslinya. "Pakai yang 14 gram seperti standar. Diapstikan bisa ngisi mulai dari bawah sampai atas," celoteh penyuka turing ini.

Kondisi bore up dan penggantian komponen pastinya harus tetap aman dan awet! Begitu, cuy!

UP GRADE REM

Sistem rem perlu diganti jika motor sudah naik kapasitas seperti ini. Jangan sampai kencang tapi malah jadi enggak bisa berhenti. Ardo menemukan trik untuk mengatasi masalah yang acap dikeluhkan pengguna Skywave, khususnya untuk rem belakang.

"Cukup ganti dengan kampas rem kepunyaan Yamaha RX-King. Rem sekarang jadi lebih menggigit," kata pria kurus ini. Untuk pemasangannya tidak ada masalah karena bisa langsung plek tanpa harus ada ubahan berarti lainnya.

Sementara untuk rem depan, hanya sebatas lakukan penggantian disc. Cukup ganti pakai yang lebih besar dan dikawal kaliper Brembo.

Cietttttt!!

DATA MODIFIKASI

Ban depan : Comet 60/80-17
Ban belakang : Mizzle 2,25-17
Pelek : Excel Takasago
Klep : TKRoller : LHK
Per klep : Sonic
Per CVT : Honda Vario
Belt : Daytona
Knalpot : RG

sumber : www.motorplus-online.com

Power Delivery Cepat

4938blade-gt-1.jpgKini, Honda Blade 110R sudah mulai banyak berbicara di road race. Salah satunya, bebek 110 cc milik tim Dunia Motor (DM) ini. Bersama Ivan Atmajaya, racer tim DM di 2009, Blade ini cukup menyulitkan lawan tuh! Buka rahasianya, taunya bermain kompresi lumayan tinggi. Yup! 13,8 : 1.

“Ingin tenaga motor punya power delivery yang cepat. Jadi, tinggal menyesuaikan rasio,” ujar Jimmy S. Winata, selaku manajer tim DM yang juga Kepala Cabang dealer Honda bernama Dunia Motorindo itu.

Memang sih, tenaga instan kerap didominasi kompresi tinggi. Tapi, dari mana ya angka 13,8 : 1 itu muncul? Sabar! Yuk, tengok seting dapur pacu Blade yang di 2010 nanti, gosipnya bakal gaet Bima Aditya sebagai racer timnya.4939blade-gt-2.jpg

Untuk bagian kepala silinder, dipapas 0,8 mm. Lalu, diameter klep Honda Sonic dibentuk ulang menjadi 27 mm (in) dan 23 (ex). Durasi noken-as diseting sekitar 265º. “Untuk durasi klep in dan ex dibuat sama,” aku pria lulusan Universitas Pelita Harapan jurusan Manajemen.

Dengan seting yang sudah diterapkan di head silinder itu, angkatan alias lift klep dibuat jadi 8,2 mm. Angka ini sengaja dibuat tidak terlalu tinggi. Sebab, dome piston tergolong ekstrem.

Piston mengaplikasi merek Izumi diameter 51,25 mm. Tapi, dome piston dibuat jadi 3 mm. Untuk mengatasi kebutuhan ruang bakar, karburator dari Mikuni TM 24 mm diandalkan. Seting spuyer dibuat menjadi 140 buat main-jet dan 20 untuk pilot-jet.

Meski sudah memiliki kompresi tinggi, Jimmy masih belum puas untuk terus mendongkrak power bawah. Maka, doi terapkan sistem magnet kering buat menghantar listrik ke CDI. “Masih pakai magnet Blade, tapi dibubut sampai beratnya jadi 700 gram,” bilang pria berkacamata ini.

4940hal8_hondaduniamotor3.jpgUntuk aplikasi magnet kering ini, banyak penyesuaian yang dilakukan. Misalnya, crankcase magnet kudu diganjal paking aluminium tebal 5 mm. Tujuannya agar oli tidak membasahi magnet. Lalu, balancer di sisi bak kopling, bobotnya juga disesuaikan ulang. Kini bobot penyeimbang kruk-as dan magnet itu hanya 200 gram.

Akibat adopsi kompresi tinggi dan aplikasi magnet kering, kini rpm mudah dikail dari putaran bawah. Sesuai keinginan Jimmy, power delivery jadi cepat. Untuk itu, timing pengapian juga harus diset ulang. Putaran tertinggi diseting di angka 39º pada 8.500 rpm. Sedang limiter CDI dipatok di 13.800 rpm.

Terakhir, kombinasi gigi rasio yang juga ikut diseting ulang. Kini, Blade dominan kelir putih ini dijejali kombinasi 13/21 untuk gigi I. Gigi II, 18/27. Gigi III, 21/26 mata. Terakhir, gigi IV, pakai kombinasi gir 22/22. "Rasio ini tergolong berat. Kan, sekarang mesin bisa teriak cepat," tutup Jimmy.

Gaz teruzzz...!

DATA MODIFIKASI

Ban : FDR Sport76 90/80-17
Pelek : Excel Takasago 1,60x17
CDI : BRT I-Max
Intake : Koso
Disc : Daytona
Gas spontan : Yamaha YZ125
Knalpot : Ahau Motor
Final gir : 14 /40 (Kenjeran)

sumber : www.motorplus-online.com

7/08/2010

Andalkan Rocker Arm Blade

4664spin-adib-1.jpgAplikasi rocker arm Honda Blade sudah teruji sukses diterapkan di motor balap Yamaha Jupiter-Z dan Mio. Kali ini, Joko, mekanik dari Sinergi Motor, Depok, coba di Suzuki Spin 125 yang diandalkan di seri balap skubek. Harapannya, sistem roller di pelatuk Blade membuat kerja kem lebih efektif dan rendah gesekan.

Tentu tidak serta merta cara aplikasinya. Karena, secara bentuk dan desain jelas beda sekali. "Bentuk aslinya lebih kecil. Harus diubah total pada dudukan as-nya. Ganjelan bos-nya saja kan beda," terang mekanik santun ini.Joko melakukan bubutan pada dudukan aslinya sampai ke pangkal. Panjangnya sekitar 9 mm. Lalu, kekurangan dudukan dari pangkal disambung manfaatkan pin piston.4665spin-adib-2.jpg

Efek lain dari aplikasi rocker arm yang mengubah desainnya adalah berdampak pada durasi kem. "Dengan profil asli kem Spin, tentu durasi jadi enggak ketemu. Karena tonjokannya kan berubah. Profil kem harus dibuat lebih bulat. Enggak boleh terlalu ramping," papar Joko lagi.

Lewat proses penambalan menggunakan las, Joko berhasil bikin desain kem yang bisa berputar efektif dan ketemu durasi yang diinginkan. "Enggak gede-gede amat sih. Durasi in 265º dan durasi ex 270º," jelas mekanik yang memang demen korek-korek skubek dari dulu.

Membuat Spin 125 mampu meluncur deras pasti bukan cuma ubahan rocker arm doang dong. Kapasitas sedikit didongkrak, sesuaikan kelas yang diincarnya. "Stroke jadi 61,2 mm dan bore-nya 58,5 mm. Bermodal piston Suzuki Thunder 125. Meski larinya masih perlu diriset lagi, paling tidak, daya tahan sudah teruji," kilahnya.

4666spin-adib-3.jpgUrusan piston memang sempat bikin puyeng. Dengan bore 58,5 mm, agak susah cari piston yang pas. "Sudah coba beberapa merek, tapi jebol melulu. Nah, pas nyoba punya Thunder 125, malah awet dan pas nih," tambah Joko yang memang benar-benar Joko tanpa embel-embel lain, kayak Joko Tingkir, Joko Bodo atau lainnya.

Satu hal yang jadi ganjalan menggarap Spin untuk balap adalah rem belakang. Masih kerap nyelonong saat dibejek. Joko mencoba sedikit optimalkan rem buritan. Caranya, selain ganti tuas paha ayam dengan punya Mio yang sedikit lebih panjang, juga mengganti per kampas punya Vario. "Lumayan bisa lebih pakem, kok," terang pria berkulit agak sawo mateng ini.

Kendala lain, garap Spin tak semudah skubek Honda atau Yamaha yang part racingnya sudah banyak. Misal untuk cari roller. Beruntung, dapat roller merek Payu yang punya ukuran 6 dan 7 gram.

Dicoba terbukti pas. "Memang cari yang enteng. Karena ini buat seting road race pasar senggol, maka putaran bawah dan tengah jadi fokus duluan. Atasnya sih sudah dapat," alasan pria yang juga gabung di Padepokan balap bareng Sena Ponda ini.

DATA MODIFIKASI


Ban : Indotire R 90/80x14
Karburator : Keihin PE 26
Knalpot : DBS
Cakram depan : Kitaco
CDI : BRT Dual band

Photobucket

sumber : www.motorplus-online.com

Pakai Kampas Kapal

4920mio-tony-aong-1.jpgYamaha Mio semplakan Toni Rahmawan tergolong fenomenal. Datang dari tim wilayah Banyumasan yang kini berngaran TDR Petronas Warid Mukti Djaya Internusa (TPWMDI), Purwokerto. Tapi, mampu bertengger di jajaran papan atas balap matik.

Di seputaran Jawa Tengag, rajin sabet juara. Di Sentul kecil dan di Subang Jawa Barat juga nyaring bersaing di barisan depan dengan pasukan Jakarta atau Jabar yang sudah lebih dulu tenar di jagad balap matik. "Kami ingin buktikan, bahwa pasukan daerah tidak kalah," tegas Mukti Ali, bos TPWMDI.

Bertarung di kelas 150 cc, Mio itu banyak mengandalkan kreativitas Eko Febrianto. "Awalnya try and error. Tapi, kelamaan ketemu juga seting maksimalnya," terang pria yang biasa dipanggil Ferry ini.4921mio-tony-andika-2.jpg

Misal soal pully. Sebelum tersedia big pully racing, Ferry bikin akal-akalan pada pully standar. "Dibubut jadi 15 derajat. Sehingga lebih rebah. Kan v-belt jadi bisa lebih naik. Efeknya putaran atas lebih naik lagi rpm-nya," alasannya.

Kreativitas lain ada pada tapak kampas kopling. Sudah dibuat lebih kuat dengan aplikasi kampas bekas kapal. "Jadi sepatu kampas dipantek dengan bekas kampas kopling kapal. Tinggal diukur sesuai kebutuhan lalu dipantek," terang Ferry yang mengaku dapat bahan kampas kapal dari Surabaya.

Fokus korekan Ferry memang mencoba memacu pergerakan rpm lebih cepat naik. Langkah yang dilakukan dengan mematok kompresi di 13,8 : 1.

Lumayan tinggi memang. “Kalau digeber di balap matik yang mengharuskan pakai bersin Pertamax Plus harus atur ulang dari timing pengapian,” jelas Ferry yang berbadan agak gembul itu.

4922mio-tony-andika-3.jpgPengapian pakai buatan BRT dengan seting timing tidak terlalu tinggi. Karena Ferry punya keyakinan, dengan kompresi yang sudah relatif tinggi, timing tertinggi yang dibutuhkan di kisaran 39 derajat.

"Itu pun di 8.500 rpm. Puncak tenaga efektif ke luar di bawah 10.000 rpm. Memang enggak terlalau gede. Tapi, yang penting motor terus jalan. Intinya, sebelum ketemu tikungan, peak power sudah ke luar," kiatnya.

Sementara untuk setingan head silinder, Ferry sudah mencoba beberapa ubahan. "Awalnya dengan klep 28 mm (in), 24 mm (ex). Tapi sejak final Matic Race di Subang, coba dengan 30 mm (in) dan 25 mm (ex). Regulasi yang memboleh kan. Jadi kita coba. Kata Tonny, lebih enak lagi dengan seting terbaru," tambah cowok berkulit agak gelap ini.

Khusus soal head silinder, Ferry memang tidak banyak mengolah bagian itu. "Tinggal order. Cuma ngasih ukuran klep, head selanjutnya dibikin di Jogja. Sementara untuk ukuran, saya belum sempat mencoba menghitung sendiri," kilah Ferry sambil bilang sudah menggunakan klep untuk Toyota Camry ini.

Agar putaran bawah enggak belet banget, Ferry tetap pakai rasio standar 13/42. Tapi, roller terlebih dahulu sudah dientengin dengan pakai ukuran 8 gram.

Begitu juga kalau dilihat dari karakter kem yang dipahat mekanik asli Purwokerto ini. Punya durasi 275 derajat, LSA dibuat ada di rentang 102-104 derajat.

Okelah kalo begeto!

TARGET MELAMBUNG


Musim balap 2010, pasukan Mukti Ali ini tak lagi jadi tim ayam sayur. Soalnya, kucuran dana atau sponsor kuat sudah datang dari TDR dan Petronas. "Saya pasang target, prestasi lebih bagus lagi di 2010. Apalagi dukungan sudah ada," yakin Mukti Ali yang juga juragan sapi ini.

Riset juga akan dikembangkan. "Ada banyak part baru dari Warid dan TDR yang akan kami riset. Harapannya, bisa makin laju motornya. Setidaknya, akal-akalan otak sudah terbantu dengan tersedianya part yang siap pakai," aku Ferry.

Selain di 150 cc, Ferry juga sedang konsetrasi membangun Mio di kelas FFA. "Tahun lalu kan ngikutin regulasi yang ada di Jawa Tengah yang mentok di 200 cc. Sekarang mau coba bikin motor sesuai regulasi di Jabar dan DKI. Bisa di atas 300 cc. Semoga bisa kompetitif juga nanti seperti di kelas 150 cc," harap Ferry.

DATA MODIFIKASI

Karburator : Keihin PE 28
Pilot-jet : 42
Main-jet : 118
Pelek : TDR
Sok : YSS
Piston : Honda GL Max

Photobucket

sumber : www.motoplus-online.com

7/07/2010

honda vario tecno

VARIO GP
RACING STYLE
Dengan warna dasar putih, kombinasi apik dengan kaki-kaki lebar dan kokoh khas gaya racing performance. Cover bodi Vario CBS Techno sudah cukup cantik tanpa ubahan, cus modelnya yang sporty dan bersudut tajam mendukung banget dibikin style ini. Dongkrak saja bagian bawah ini dengan velg lebar dan ban gambot. Joknya lantas dibuat berundak ala GP style, pasti cukup keren diajak ngider harian.

ESTIMASI BIAYAPhotobucket
VELG : Rp 2 juta
BAN : Rp 1 juta
DISC CAKRAM PSM : Rp 500 ribu
OIL COOLER : Rp 300 ribu
MONOSOK : Rp 200 ribu
KNALPOT CUSTOM : Rp 500 ribu
SEPATBOR CUSTOM : Rp 1 juta
JOK : Rp 700 ribu
ONGKOS MODIF : Rp 2 juta

vario cbs techno low rider

LOW RIDER
Style celub bak chooper paling ngetrend dipasang ke Vario CBS Techno. Velg custom ngambil punya mobil dengan ban Deli Tire or Bridgestone ukuran gajah sip diaplikasi. Nggak lupa plat molorin CVTnya kudu wajib dipasang. Style chooper makin sip dengan mengganti stang dan pipa knalpotnya, urusan tampangnya Vario CBS Techno udah keren buanget, cuy!

ESTIMASI BIAYA :
PELEK CUSTOM : Rp 5 juta
BAN DELITIRE : Rp 2 juta
COVER SEPATBOR : Rp 2 juta
KNALPOT SLICE CUT : Rp 1,5 juta
OIL COOLER : Rp 300 ribu
SETANG CUSTOM : Rp 500 ribu
ONGKOS MODIF : Rp 3 juta

VARIO TRAIL

TRAIL DESERT
Buat yang demen adventure gaya trail penggaruk lumpur pasti pas. Vario CBS Techno klop pula dimodif model ini. Ubahannya lebih simpel, ganti karet ban model tahu dan tambahkan pipa roll bar sebagai asesorisnya.

BAN : Rp 700 ribu
CAKRAM TDR : Rp 600 ribu
KNALPOT : Rp 300 ribu
ROLL BAR : Rp 400 ribu
JOK : Rp 500 ribu
SETANG : Rp 500 ribu
SEPATBOR TRAIL : Rp 200 ribu
SOKBEKER WP : Rp 400 ribu

vario carrier

VARIO CARRIED
Demen matic Jap style and turing? Sosok modern Vario CBS Techno sudah mumpuni. Tinggal cat ulang dengan kelir putih dengan kombinasi merah, pasti fresh. idenya nyomot Honda Beat dari beat 2 go dari lomba honda otocontest 2009. Setangnya ganti trondol dengan pelek custom ngambil punya pelek kaleng mobil atau punya hade lawas. Jerujinya bikin rapat lurus agar terkesan bersih dan elegan. Selanjutnya tambahkan bagasi dibelakang. Mo angkut barang? Sok wae atuh!

PELEK CUSTOM : Rp 2 juta
BAN : Rp 1 juta
JOK CUSTOM : Rp 400 ribu
SETANG : Rp 200 ribu
EXTENDED : Rp 200 ribu
BAGASI : Rp 2 juta

variao ape hanger

APE HANGER
Yang demen bobber or gaya ape hanger bisa keren juga berbasis Vario CBS Techno. Setang dibikin meninggi dengan tambahan behel besi memanjang dibelakang, bikin boncenger nyaman diajak jalan jauh. Model bodi Vario CBS Techno yang modern jadi makin tampak garang dengan paduan kaki-kaki gambot customized ini. Mau..mau..mau…

BAN : Rp 1 juta
CAKRAM PSM 320 : Rp 500 ribu
PELEK CUSTOM : Rp 1,5-3 juta
KNALPOT : Rp 500 ribu
EXTENDED CVT : Rp 200 ribu
CAT : 1 jutaPhotobucket

7/06/2010

honda vario 2007 ( bali)



4734vario-adhe-1.jpg

PhotobucketThinq Cycles (TC) yang selama ini modif Harley-Davidson (H-D) coba hadirkan kreasi di skubek. Bermain aliran low rider tapi dengan sentuhan berbeda dibanding modifikator skubek umumnya. Dimensi skubeknya Agnes Mo-nica ini menjadi sangat panjang.4735vario-adhe-2.jpg

Membuat panjang dan besar, bukan dengan cara pergi ke Mak Erot. Melainkan pakai undur-undur sampai 43 cm, sudah pasti sumbu roda terdorong cukup jauh. "Sengaja dibuat begitu karena memang ingin semua terlihat pas jika dengan tampilan panjang," kata Thinq yang memang punya nama unik ini.

Selain itu jarak yang sedemikian panjang tentunya juga untuk membuat roda belakang bebas dari gesekan ke bodi. Maklum, lebarnya sudah mencapai 8 inci.

4736vario-adhe-3.jpgTak hanya itu, di bagian depan juga dilakukan sedikit ubahan, sehingga motor terlihat lebih panjang. Yaitu dengan membuat sok depan jadi sangat miring dibandingkan standar. "Ubahan posisi ini semata hanya mengejar tampilan tadi," lanjut pria bertubuh tinggi besar ini.

Perubahan sudut ini dilakukan saat pembuatan segitiga baru. "Kebetulan pelek depan yang lebarnya 4 inci butuh segitiga baru, sekalian untuk sok kita lubangi miring," tambah pemilik bengkel di Jl. Tukal Badung, No. 98X, Denpasar ini.4737vario-adhe-4.jpg

Namun tentu saja perlakuan ini menimbulkan konsekuensi. "Sudut putar menjadi sangat berkurang, ya itulah risikonya demi tampilan," kekeh pria yang suka menggunakan topi pet ini.

Sementara untuk setang juga dibuat tinggi. Itu karena disesuaikan dengan postur Thinq yang memang tinggi besar. Tingginya setang mencapai 60 cm. "Ini pas dengan postur yang lebih dari 180 cm. Kalau orangnya pendek, pastinya enggak nyaman atau malah gak mau bawa motor dengan setang tinggi begini," bebernya jujur.

INSPIRASI H-D

4738vario-adhe-5.jpgSebagai modifikator yang berangkat dari ngerombak Harley-Davidson (H-D), Thinq tentunya masih ingin memasukkan unsur dari motor Amerika itu. Jelas terlihat dari beberapa trik dan detail yang diaplikasi. Misalnya untuk cat cover CVT.

Cat seperti ini tidak halus tapi menimbulkan efek kasar dan gagah. "Saya sengaja pakai cat Wringkle yang sering digunakan untuk melapisi mesin H-D," katanya bersemangat.

Begitu juga dengan suspensi belakang. Doi rupanya lebih sip dengan sistem rigid alias tanpa sok. Kita hanya buatkan penahan antara arm dengan rangka menggunakan pipa stainless steel ukuran 2 inci," lanjut pria yang memelihara jenggot ini.

Sementara untuk cover bodi masih mempertahankan standar. Hanya saja ada penambahan beberapa stripping. Tentu tetap masih gaya H-D!

DATA MODIFIKASI

Pelek depan : Custom 4x14 inci
Ban depan : Swallow 160/60-14
Pelek belakang : Custom 8x14 inci
Ban belakang : Dunlop 160/60-14
Setang : Custom
Knalpot : Supertrap
Filter : Koso
Thinq Cycles : (0361) 7495632
Photobucket
sumber : www.motorplus-online.com

7/03/2010

hemm...gmana kalo liat vario yang satu ini??honda vario dengan plat G,,yang berarti vario ini berasal dari kota tegal!dengan tampilan warna merah!.Photobucket

PhotobucketHonda vario milik "wie-wie" nama panggilannya dari kota tegal yang beralamat di "jl.gatot kaca,slerok" ini memang ga kalah dari modifikasi-modifikasi dari kota lain.
PhotobucketSudah beberapa kontes diikutinya dari mulai kontes di pemalang sampai di semarang.Tentunya kontes dikota Tegal sendiri sudah diikutinya.
konsep dari modifikasi ini boleh dibilang cukup rumit dari pengecatan sampai kaki-kaki yang dibuat.Memang komponennya sendiri ga gampang didapat dikota Tegal,kalau untuk pengecatan boleh diadu kualitasnya,sengaja diberi warna ungu biar keliatan ngjreng gitu loh...walaupun terkesan warna janda kata orang....sih.tapi biarlah,,yang penting tetep ok.eit...masih ada lagi motor kasayangannya yaitu honda cb-125 tapi masih dalam tahap pengerjaan.Gimana ya jadinya hemmm.......jadi penasaran.kita lihat saja nanti.........
Photobucket