7/08/2010

Andalkan Rocker Arm Blade

4664spin-adib-1.jpgAplikasi rocker arm Honda Blade sudah teruji sukses diterapkan di motor balap Yamaha Jupiter-Z dan Mio. Kali ini, Joko, mekanik dari Sinergi Motor, Depok, coba di Suzuki Spin 125 yang diandalkan di seri balap skubek. Harapannya, sistem roller di pelatuk Blade membuat kerja kem lebih efektif dan rendah gesekan.

Tentu tidak serta merta cara aplikasinya. Karena, secara bentuk dan desain jelas beda sekali. "Bentuk aslinya lebih kecil. Harus diubah total pada dudukan as-nya. Ganjelan bos-nya saja kan beda," terang mekanik santun ini.Joko melakukan bubutan pada dudukan aslinya sampai ke pangkal. Panjangnya sekitar 9 mm. Lalu, kekurangan dudukan dari pangkal disambung manfaatkan pin piston.4665spin-adib-2.jpg

Efek lain dari aplikasi rocker arm yang mengubah desainnya adalah berdampak pada durasi kem. "Dengan profil asli kem Spin, tentu durasi jadi enggak ketemu. Karena tonjokannya kan berubah. Profil kem harus dibuat lebih bulat. Enggak boleh terlalu ramping," papar Joko lagi.

Lewat proses penambalan menggunakan las, Joko berhasil bikin desain kem yang bisa berputar efektif dan ketemu durasi yang diinginkan. "Enggak gede-gede amat sih. Durasi in 265º dan durasi ex 270º," jelas mekanik yang memang demen korek-korek skubek dari dulu.

Membuat Spin 125 mampu meluncur deras pasti bukan cuma ubahan rocker arm doang dong. Kapasitas sedikit didongkrak, sesuaikan kelas yang diincarnya. "Stroke jadi 61,2 mm dan bore-nya 58,5 mm. Bermodal piston Suzuki Thunder 125. Meski larinya masih perlu diriset lagi, paling tidak, daya tahan sudah teruji," kilahnya.

4666spin-adib-3.jpgUrusan piston memang sempat bikin puyeng. Dengan bore 58,5 mm, agak susah cari piston yang pas. "Sudah coba beberapa merek, tapi jebol melulu. Nah, pas nyoba punya Thunder 125, malah awet dan pas nih," tambah Joko yang memang benar-benar Joko tanpa embel-embel lain, kayak Joko Tingkir, Joko Bodo atau lainnya.

Satu hal yang jadi ganjalan menggarap Spin untuk balap adalah rem belakang. Masih kerap nyelonong saat dibejek. Joko mencoba sedikit optimalkan rem buritan. Caranya, selain ganti tuas paha ayam dengan punya Mio yang sedikit lebih panjang, juga mengganti per kampas punya Vario. "Lumayan bisa lebih pakem, kok," terang pria berkulit agak sawo mateng ini.

Kendala lain, garap Spin tak semudah skubek Honda atau Yamaha yang part racingnya sudah banyak. Misal untuk cari roller. Beruntung, dapat roller merek Payu yang punya ukuran 6 dan 7 gram.

Dicoba terbukti pas. "Memang cari yang enteng. Karena ini buat seting road race pasar senggol, maka putaran bawah dan tengah jadi fokus duluan. Atasnya sih sudah dapat," alasan pria yang juga gabung di Padepokan balap bareng Sena Ponda ini.

DATA MODIFIKASI


Ban : Indotire R 90/80x14
Karburator : Keihin PE 26
Knalpot : DBS
Cakram depan : Kitaco
CDI : BRT Dual band

Photobucket

sumber : www.motorplus-online.com

Pakai Kampas Kapal

4920mio-tony-aong-1.jpgYamaha Mio semplakan Toni Rahmawan tergolong fenomenal. Datang dari tim wilayah Banyumasan yang kini berngaran TDR Petronas Warid Mukti Djaya Internusa (TPWMDI), Purwokerto. Tapi, mampu bertengger di jajaran papan atas balap matik.

Di seputaran Jawa Tengag, rajin sabet juara. Di Sentul kecil dan di Subang Jawa Barat juga nyaring bersaing di barisan depan dengan pasukan Jakarta atau Jabar yang sudah lebih dulu tenar di jagad balap matik. "Kami ingin buktikan, bahwa pasukan daerah tidak kalah," tegas Mukti Ali, bos TPWMDI.

Bertarung di kelas 150 cc, Mio itu banyak mengandalkan kreativitas Eko Febrianto. "Awalnya try and error. Tapi, kelamaan ketemu juga seting maksimalnya," terang pria yang biasa dipanggil Ferry ini.4921mio-tony-andika-2.jpg

Misal soal pully. Sebelum tersedia big pully racing, Ferry bikin akal-akalan pada pully standar. "Dibubut jadi 15 derajat. Sehingga lebih rebah. Kan v-belt jadi bisa lebih naik. Efeknya putaran atas lebih naik lagi rpm-nya," alasannya.

Kreativitas lain ada pada tapak kampas kopling. Sudah dibuat lebih kuat dengan aplikasi kampas bekas kapal. "Jadi sepatu kampas dipantek dengan bekas kampas kopling kapal. Tinggal diukur sesuai kebutuhan lalu dipantek," terang Ferry yang mengaku dapat bahan kampas kapal dari Surabaya.

Fokus korekan Ferry memang mencoba memacu pergerakan rpm lebih cepat naik. Langkah yang dilakukan dengan mematok kompresi di 13,8 : 1.

Lumayan tinggi memang. “Kalau digeber di balap matik yang mengharuskan pakai bersin Pertamax Plus harus atur ulang dari timing pengapian,” jelas Ferry yang berbadan agak gembul itu.

4922mio-tony-andika-3.jpgPengapian pakai buatan BRT dengan seting timing tidak terlalu tinggi. Karena Ferry punya keyakinan, dengan kompresi yang sudah relatif tinggi, timing tertinggi yang dibutuhkan di kisaran 39 derajat.

"Itu pun di 8.500 rpm. Puncak tenaga efektif ke luar di bawah 10.000 rpm. Memang enggak terlalau gede. Tapi, yang penting motor terus jalan. Intinya, sebelum ketemu tikungan, peak power sudah ke luar," kiatnya.

Sementara untuk setingan head silinder, Ferry sudah mencoba beberapa ubahan. "Awalnya dengan klep 28 mm (in), 24 mm (ex). Tapi sejak final Matic Race di Subang, coba dengan 30 mm (in) dan 25 mm (ex). Regulasi yang memboleh kan. Jadi kita coba. Kata Tonny, lebih enak lagi dengan seting terbaru," tambah cowok berkulit agak gelap ini.

Khusus soal head silinder, Ferry memang tidak banyak mengolah bagian itu. "Tinggal order. Cuma ngasih ukuran klep, head selanjutnya dibikin di Jogja. Sementara untuk ukuran, saya belum sempat mencoba menghitung sendiri," kilah Ferry sambil bilang sudah menggunakan klep untuk Toyota Camry ini.

Agar putaran bawah enggak belet banget, Ferry tetap pakai rasio standar 13/42. Tapi, roller terlebih dahulu sudah dientengin dengan pakai ukuran 8 gram.

Begitu juga kalau dilihat dari karakter kem yang dipahat mekanik asli Purwokerto ini. Punya durasi 275 derajat, LSA dibuat ada di rentang 102-104 derajat.

Okelah kalo begeto!

TARGET MELAMBUNG


Musim balap 2010, pasukan Mukti Ali ini tak lagi jadi tim ayam sayur. Soalnya, kucuran dana atau sponsor kuat sudah datang dari TDR dan Petronas. "Saya pasang target, prestasi lebih bagus lagi di 2010. Apalagi dukungan sudah ada," yakin Mukti Ali yang juga juragan sapi ini.

Riset juga akan dikembangkan. "Ada banyak part baru dari Warid dan TDR yang akan kami riset. Harapannya, bisa makin laju motornya. Setidaknya, akal-akalan otak sudah terbantu dengan tersedianya part yang siap pakai," aku Ferry.

Selain di 150 cc, Ferry juga sedang konsetrasi membangun Mio di kelas FFA. "Tahun lalu kan ngikutin regulasi yang ada di Jawa Tengah yang mentok di 200 cc. Sekarang mau coba bikin motor sesuai regulasi di Jabar dan DKI. Bisa di atas 300 cc. Semoga bisa kompetitif juga nanti seperti di kelas 150 cc," harap Ferry.

DATA MODIFIKASI

Karburator : Keihin PE 28
Pilot-jet : 42
Main-jet : 118
Pelek : TDR
Sok : YSS
Piston : Honda GL Max

Photobucket

sumber : www.motoplus-online.com