| Kini, Honda Blade 110R sudah mulai banyak berbicara di road race. Salah satunya, bebek 110 cc milik tim Dunia Motor (DM) ini. Bersama Ivan Atmajaya, racer tim DM di 2009, Blade ini cukup menyulitkan lawan tuh! Buka rahasianya, taunya bermain kompresi lumayan tinggi. Yup! 13,8 : 1.
“Ingin tenaga motor punya power delivery yang cepat. Jadi, tinggal menyesuaikan rasio,” ujar Jimmy S. Winata, selaku manajer tim DM yang juga Kepala Cabang dealer Honda bernama Dunia Motorindo itu.
Memang sih, tenaga instan kerap didominasi kompresi tinggi. Tapi, dari mana ya angka 13,8 : 1 itu muncul? Sabar! Yuk, tengok seting dapur pacu Blade yang di 2010 nanti, gosipnya bakal gaet Bima Aditya sebagai racer timnya.
Untuk bagian kepala silinder, dipapas 0,8 mm. Lalu, diameter klep Honda Sonic dibentuk ulang menjadi 27 mm (in) dan 23 (ex). Durasi noken-as diseting sekitar 265º. “Untuk durasi klep in dan ex dibuat sama,” aku pria lulusan Universitas Pelita Harapan jurusan Manajemen.
Dengan seting yang sudah diterapkan di head silinder itu, angkatan alias lift klep dibuat jadi 8,2 mm. Angka ini sengaja dibuat tidak terlalu tinggi. Sebab, dome piston tergolong ekstrem.
Piston mengaplikasi merek Izumi diameter 51,25 mm. Tapi, dome piston dibuat jadi 3 mm. Untuk mengatasi kebutuhan ruang bakar, karburator dari Mikuni TM 24 mm diandalkan. Seting spuyer dibuat menjadi 140 buat main-jet dan 20 untuk pilot-jet.
Meski sudah memiliki kompresi tinggi, Jimmy masih belum puas untuk terus mendongkrak power bawah. Maka, doi terapkan sistem magnet kering buat menghantar listrik ke CDI. “Masih pakai magnet Blade, tapi dibubut sampai beratnya jadi 700 gram,” bilang pria berkacamata ini.
Untuk aplikasi magnet kering ini, banyak penyesuaian yang dilakukan. Misalnya, crankcase magnet kudu diganjal paking aluminium tebal 5 mm. Tujuannya agar oli tidak membasahi magnet. Lalu, balancer di sisi bak kopling, bobotnya juga disesuaikan ulang. Kini bobot penyeimbang kruk-as dan magnet itu hanya 200 gram.
Akibat adopsi kompresi tinggi dan aplikasi magnet kering, kini rpm mudah dikail dari putaran bawah. Sesuai keinginan Jimmy, power delivery jadi cepat. Untuk itu, timing pengapian juga harus diset ulang. Putaran tertinggi diseting di angka 39º pada 8.500 rpm. Sedang limiter CDI dipatok di 13.800 rpm.
Terakhir, kombinasi gigi rasio yang juga ikut diseting ulang. Kini, Blade dominan kelir putih ini dijejali kombinasi 13/21 untuk gigi I. Gigi II, 18/27. Gigi III, 21/26 mata. Terakhir, gigi IV, pakai kombinasi gir 22/22. "Rasio ini tergolong berat. Kan, sekarang mesin bisa teriak cepat," tutup Jimmy.
Gaz teruzzz...!
DATA MODIFIKASI
Ban : FDR Sport76 90/80-17 Pelek : Excel Takasago 1,60x17 CDI : BRT I-Max Intake : Koso Disc : Daytona Gas spontan : Yamaha YZ125 Knalpot : Ahau Motor Final gir : 14 /40 (Kenjeran)
sumber : www.motorplus-online.com
|