7/12/2010

Harian Enteng 145 cc

4731skywave-bore-up-yudi-1.jpgBagi mereka yang aktif dan hidupnya bisa dikatakan di atas roda, motor yang enteng alias enak diajak akselerasi pastilah sangat diperlukan. "Saya suka model desain Skywave tapi ternyata berat banget diajak ngebut. Perlu rombakan biar lebih ngacir," kata Happy Yulardo, pemilik skubek ini.

Bodi bongsor Skywave pertama diakali dengan proses bore up. "Banyak tawaran tapi karena ini buat pemakaian harian, maka pilih main aman aja," kata Ardo, sapaannya sehari-hari.
4732skywave-bore-up-yudi-2.jpg
Untuk pengguna skubek Suzuki, piston Thunder 125 menjadi pilihan yang paling pas. Sebab untuk pemasangannya relatif gampang. Karena tidak dilakukan ubahan pada lubang pin piston alias masih standar. Yaitu sama-sama 14 mm antara Thunder 125 dan Skywave.

Penggunaan piston Thunder 125 oversize 100 punya diameter 58 mm. Stroke standar Skywave 55,2 mm. Maka kapasitas silinder yang digapai yaitu 145,8 cc.

Tenaga bawah motor langsung terasa beda. "Selain itu dengan ukuran seperti ini masih sangat aman buat pemakaian harian, gak rewel," kata pria yang bekerja menjadi tim promosi band indie yang baru bermunculan.

Tenaga besar yang dirasakan sekarang juga diakibatkan pemakaian klep yang lebih besar dibandingkan bawaannya. "Pakai TK 26 : 23, jadi tenaganya pas. Buat ngebut di jalanan juga oke, tapi kalau buat balap liar ya.. belum," katanya merendah.

4733skywave-bore-up-yudi-3.jpgTentu saja di sistem kerja skubek, tidak cukup dengan hanya upgrade dapur pacu. Dalaman CVT juga perlu dilakukan penggantian biar motor jadi lebih ngacir.

Nah, pada Skywave ini sudut derajat pullynya sedikit dibubut. "Tujuannya supaya reaksinya lebih cepat dan spontan sehingga akselerasi jadi lebih cepat juga," kata pria berambut mohawk ini. Perubahan ini membuat sudut sekarang menjadi 13,5 derajat, aslinya 14 derajat.

Selain itu untuk per CVT-nya juga dilakukan penggantian. "Dipilih yang lebih keras biar reaksinya cepat," tambah warga kota Legenda Wisata, Cibubur, Jakarta Timur ini. Tapi, bukannya memilih produk variasi yang banyak di pasaran, dia malah menggunakan bawaan standar kepunyaan Honda Vario.

Hal lain yang didapat hasil percobaan Ardo adalah dalam masalah urusan pemilihan roller-nya. "Ilmu roller enteng buat akselerasi dan berat untuk top-speed itu hanya jika kondisi mesin standar. Kalau sudah bore up begini maka lain lagi ceritanya," tambah pria yang tergabung di Skywave Owner Club (SOC) ini.

Mengenai roller ini setelah diuji langfsung memang lebih baik kembali ke ukuran aslinya. "Pakai yang 14 gram seperti standar. Diapstikan bisa ngisi mulai dari bawah sampai atas," celoteh penyuka turing ini.

Kondisi bore up dan penggantian komponen pastinya harus tetap aman dan awet! Begitu, cuy!

UP GRADE REM

Sistem rem perlu diganti jika motor sudah naik kapasitas seperti ini. Jangan sampai kencang tapi malah jadi enggak bisa berhenti. Ardo menemukan trik untuk mengatasi masalah yang acap dikeluhkan pengguna Skywave, khususnya untuk rem belakang.

"Cukup ganti dengan kampas rem kepunyaan Yamaha RX-King. Rem sekarang jadi lebih menggigit," kata pria kurus ini. Untuk pemasangannya tidak ada masalah karena bisa langsung plek tanpa harus ada ubahan berarti lainnya.

Sementara untuk rem depan, hanya sebatas lakukan penggantian disc. Cukup ganti pakai yang lebih besar dan dikawal kaliper Brembo.

Cietttttt!!

DATA MODIFIKASI

Ban depan : Comet 60/80-17
Ban belakang : Mizzle 2,25-17
Pelek : Excel Takasago
Klep : TKRoller : LHK
Per klep : Sonic
Per CVT : Honda Vario
Belt : Daytona
Knalpot : RG

sumber : www.motorplus-online.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar